Luka Modric, Terluka Parah Tapi tidak Menyerah

Luka Modric, Terluka Parah Tapi tidak Menyerah

Luka Modric adalah pemain bola yang hebat Madrid yang kini tengah berjuang dalam semua laga yang dilakoni Madrid. Dia sudah berulang kali mencetak gol ketika masuk ke permainan bersama tim-nya. Kemampuan dia yang hebat itu mungkin tidak bisa kita lihat lagi terlalu sering karena dia mengalami cidera serius di lututnya. Seperti biasa bermain sepak bola itu tidak bisa diprediksi apalagi ketika sudah masuk ke lapangan dan pertandingan. Apapun bisa terjadi dan semuanya bisa memburuk hanya dalam satu pertandingan saja. Hal serupa serpertinya juga terjadi pada Modric karena dia tidak bisa lagi secara prima bermain bola bersama teman satu tim-nya.

Itu bisa saja terjadi karena dokternya tidak menyarankan dia untuk bertanding sampai benar-benar pulih. Begitulah keinginan semua pemain bola baik yang cidera maupun tidak. Mereka pasti akan berjuang mati-matian supaya bisa main kembali ke tim dan ikut memperjuangkan kemenangan yang bisa diraih pada saat pertandingan itu. Berhubung jumlah pertandingan di musim ini juga akan selesai, Modric sangat termotivasi dan benar-benar ingin memperkuat tim asuhan Carlo Ancelotti melawan saingan mereka. Pemain asal Kroasia ini paham betul tentang kondisinya sekarang ini, akan tetapi dia merasakan adanya perubahan drastis.

Gelandang tengah yang berulang kali mendapatkan luka di lutut ini menyatakan bahwa dia sudah pulih dari cideranya. Setelah empat bulan tanpa pertandingan, dia memang banyak kehilangan waktunya sebagai pemain bola. Dia juga terlihat sangat menyesal karena mendapatkan cidera yang sama di lututnya ketika bermain dengan Malaga. Ini adalah hal yang umum terjadi dan memang biasanya sangat mengesalkan bagi berbagai pemain sepak bola. Tapi hal ini memang tidak bisa dihindarkan karena permainan ini membutuhkan kekuatan fisik yang luar biasa.

Pemain bernomor punggung 19 ini hanya baru menghasilkan satu gol di musim ini. Itu bukan hasil yang optimal tentunya, akan tetapi memang tidak bisa dipungkiri jika posisi dia saat ini memang sedang sulit. Yang dia inginkan sekarang adalah memperkuat tim sekali lagi setelah absen 4 bulan dalam musim La-Liga 2014 2015.

Sebagai pemain Los Blancos yang senior, Luka Modric memiliki cara bermain yang bisa dibilang unik dan visionaris. Kemampuannya bisa dibilang hebat karena dia bisa mengubah ritme permainan. Itu bisa dilihat dari cara insiatif dia mengoper bola untuk rekannya yang jauh, atau juga melakukan terobosan sendirian. Sangat disayangkan ketika dia terluka di awal musim La-Liga karena kita tidak bisa melihat dia dengan lincah beraksi di rumput. Apapun yang terjadi, di sisa musim ini dia akan mengerahkan segala kemampuannya untuk meperkuat tim-nya melawan tim lain. Penting sekali untuk diperhatikan bagi dia untuk menjaga lututunya dari serangan pemain bola musuh yang sengaja mengincarnya karena dia memang benar-benar aset hebat di Madrid.

Derby della Madonnina Torehkan Catatan Buruk

Derby della Madonnina Torehkan Catatan Buruk

Pada saat tahun 90 an, Derby della Madonnina menjadi pemain Italia yang terbaik. Di masanya, Derby della Madonnina menjadi simbol kemewahan dari jagat sepak bola dunia. Dalam setiap pertandingannya selalu menampilkan deretan pemain bintang dan top papan atas. Namun ternyata derby della madonnina memiliki segudang drama yang selalu menjadi bahan perbincangan. Dua raksasa Italia, AC Milan dan Inter Milan menjadi dua klub yang kompak terdampar oleh masalah finansial. Masalah finansial tersebut mengakibatkan turunnya performa pemain sehingga hengkangnya para pemain bintang. Masalah tersebut digadang-gadang menjadi sebuah kutukan karena dua klub dari kota Milan tersebut saling adu tanding dan adu gengsi dalam mencapai sebuah kesuksesan.

Saat ini, Derby della Madonnina bukanlah menjadi pertandingan antara dua klub besar yang mencari kesuksesan. Yang ada hanyalah pertandingan klub yang saling beradu gengsi. Dulu pertandingan Derby della Madonnina merupakan sebuah pertandingan besar untuk memperebutkan gelar juara. Namun saat ini pertandingan itu hanyalah sekedar pertandingan sebatas dua tim yang saling gengsi. Hal tersebut ditunjukkan dengan AC Milan dan Inter Milan yang selalu berada di papan tengah klasemen.
Rossoneri dan Nerazzuri seakan kompak untuk menyiasati masalah finansial yang melanda mereka. Mereka melakukan peminjaman pemain untuk mengakali kurangnya finansial yang dimiliki. Peminjaman pemain tersebut dikarenakan alasan pemain muda yang membutuhkan jam terbang dan pemain senior yang performanya sudah turun. Padahal sebenarnya Derby della Madonnina merupakan pertandingan pemain bintang papan atas. Jika sudah demikian, maka derby yang ada menjadi kurang mewah dan glamor.

Dua klub raksasa Milan tersebut mengalami performa yang naik turun. Pada musim 2014/2015 terdapat deretan performa yang tidak konsisten antara AC Milan dan Inter Milan. Performa tersebut dipicu oleh beberapa faktor. Diantaranya krisis finansial, pelatih yang sering berganti dan pemain yang tidak bersemangat lagi. Pada masa keemasannya dulu, Derby della Madonnina sangat kental dengan perang bintangnya. Lihat saja seperti Shevchenko, Ronaldo, Luis Figo, Kaka, Ruud Guilt bahkan Marco Van Basten. Mereka semua saling beradu ketangkasan dalam memainkan bola. Namun sayangnya hal tersebut sudah berbeda dengan derby masa sekarang. Tetapi meskipun sudah berubah, Derby della Madonnina masih patut untuk tetap disaksikan.

Beberapa tahun terakhir duo Merah Hitam dan Putih Biru ini mengalami krisis prestasi. Hilangnya prestasi dua klub tersebut menggambarkan Derby della Madonnina yang sudah tidak mewah lagi. Kondisi ini merupakan sebuah bukti akibat kesombongan kedua tim pada saat meraih era keemasannya tahun 90an lalu. Dalam sebuah situs Forbes dikatakan bahwa pada tahun 2014 lalu catatan keuangan AC Milan dan Inter Milan berada pada titik buruk jika dibandingkan dengan duo El Clasico, Real Madrid dan Barcelona.

Suarez Ternyata Sempat Diragukan Barca

Suarez Ternyata Sempat Diragukan BarcaSuarez Ternyata Sempat Diragukan Barca

Selama bergabung bersama Barcelona, prestasi Suarez tidak perlu dipertanyakan lagi. Hal tersebut dibuktikan dengan sederet gol yang diberikan Suarez untuk Azulgrana. Namun tahukah anda bahwa ternyata pemain asal Uruguay tersebut sempat diragukan oleh tim saat pertama kali ia bergabung. Masa sulit yang dialami Suarez tergambar jelas saat proses transfer dirinya dari Liverpool ke Camp Nou. Pada musim panas lalu transfer tersebut berjalan begitu sulit apalagi harga yang ditetapkan untuk Suarez sangat mahal yang diperkirakan mencapai hingga 75 juta poundsterling.

Pelatih Barcelona, Luis Enrique mengaku secara terang-terangan bahwa pada awal kedatangan Suarez, dirinya dan seluruh tim sempat meragukan Suarez. Namun ia mencoba untuk selalu berpikir positif agar segala keraguan dan kekhawatiran yang ia alami tak menjadi kenyataan. Namun keraguan itu semakin menguat ketika Suarez baru bisa menciptakan gol pertamanya pada pertandingannya yang kesembilan bersama Barcelona. Terlebih lagi imej Suarez yang memburuk akibat insiden gigitnya pada saat piala dunia lalu. Suarez pun terpaksa harus menanti hingga minggu kesembilan untuk dapat tampil di Liga Spanyol. Imej buruk juga ditambah dengan julukan bad boy karena ulahnya waktu selama berada di Inggris.
Namun ternyata Suarez mampu membuktikan pada Barcelona bahwa tak percuma untuk mendatangkan dirinya dengan harga yang sangat mahal. Penyerang yang kini berusia 27 tahun tersebut sudah menembakkan sebanyak 19 gol dan 15 assist dalam 34 pertandingannya di berbagai ajang kompetisi. Apalagi dua gol yang ia bidikkan ke gawang Paris Saint Germain mampu membawa skuat Barca menginjakkan satu langkah kaki di babak semifinal dengan perolehan skor 3-1 pada leg pertama.

Enrique juga menambahkan bahwa hal tersebut biasa dan sangat wajar terjadi jika merekrut seorang pemain apalagi pemain top papan atas. Perlu dilakukan adaptasi dan proses membiasakan diri dengan tim, rekan setim dan juga kota dimana ia tinggal sekarang. Enrique menyatakan bahwa semua proses tersebut mampu dilakukan Suarez dengan sangat cepat. Hal serupa juga disampaikan oleh Suarez. Ia mengatakan bahwa ia sedang berada dalam performa yang baik. Ia menyatakan kekagumannya pada Barcelona karena merupakan sebuah tim yang sangat solid dan mampu bekerja dengan baik. Ia tak peduli siapa yang mencetak gol. Karena setiap gol yang tercipta adalah hasil dari kerja sama seluruh tim.

Saat ini tim asuhan Martinez tersebut sedang fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya di Camp Nou. Pertandingan leg kedua yang akan digelar nanti malam akan menjamu Paris Saint Germain. Dalam pertandingan tersebut, Suarez mencoba untuk mencetak gol secara beruntun pada tiga penampilannya. Dengan kemenangan yang telah didapat dari leg pertama, Barcelona menjadi tim yang diunggulkan pada pertandingan kali ini.

Ancelotti Belum Ingin Kembali ke Italia

Ancelotti Belum Ingin Kembali ke Italia

Pelatih fenomenal Carlo Ancelotti mengaku belum mempunyai keinginan untuk kembali ke tempat asal kelahirannya yaitu di Italia. Selain menjadi negara dimana ia dilahirkan, Italia juga menjadi saksi sejarah karirnya selama menjadi pemain dan juga pelatih sepak bola. Ancelotti mengaku ia masih betah untuk menimba ilmu dan merentangkan sayap karirnya di luar Italia. Sebelum menjadi pelatih, Ancelotti tercatat pernah menjadi pemain yang membela beberapa klub asal Italia. Ia juga terhitung pernah memperkuat skuat sepak bola tim nasional Italia selama 26 kali.

Karir klub Ancelotti berawal di tahun 1976 bersam Parma. Tiga tahun setelah itu, ia hengkang ke AS Roma. Bersama AS Roma, ia berhasil mempersembahkan gelar Piala Italia dan Serie A. Kemudian tahun 1987 sampai 1992, ia pindah untuk memperkuat klub AC Milan. Ia pun menorehkan prestasi bersama AC Milan dengan meraih Piala Champions UEFA di tahun 1989 dan 1990. Tak lama setelah itu ia pun memutuskan untuk pensiun sebagai pemain dan memulai karirnya sebagai pelatih.

Pada tahun 1995 ia telah resmi menjadi pelatih untuk Reggina dan setahun berikutnya ia mampu membawa Reggiana ke Serie A. Namun di tahun yang sama pula di 1996, ia dikontrak untuk menjadi pelatih Parma hingga tahun 1999. Di tahun tersebut ia berpindah untuk melatih klub Juventus hingga tahun 2001. Semakin hari prestasi Ancelotti sebagai pelatih semakin gemilang. Di tahun 2001 pula ia berhasil membawa AC Milan ke babak semifinal Piala UEFA. Selama delapan musim di AC Milan, Ancelotti berhasil memberikan sederet prestasi.

Setelah dirasa prestasinya di Italia sudah cukup, ia pun mulai hijrah ke luar negeri. Pada tahun 2009 ia resmi melatih klub Inggris, Chelsea. Bersama The Blues ia juga tak absen untuk memberikan prestasi. Pada musim pertamanya ia berhasil membawa Chelsea meraih gelar juara Piala FA dan Liga Primer Inggris. Namun sayangnya Chelsea memutuskan untuk memecat Ancelotti karena ia gagal mempertahankan gelar juaranya tersebut. Ia pun sempat melatih Paris Saint Germain hingga akhirnya ia menangani klub raksasa Spanyol, Real Madrid hingga saat ini.

Melihat karirnya yang berada di luar Italia selama lebih dari sepuluh tahun, Ancelotti mengatakan bahwa dirinya senang bekerja di luar negeri dan belum ingin kembali ke kampung halaman. Ia menambahkan mungkin beberapa tahun kemudian dirinya akan kembali ke Italia, namun tidak dalam waktu yang dekat. Ancelotti juga mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara sepak bola Spanyol dan Italia. Di Spanyol stadionnya cenderung lebih sepi dan terjadi banyak kekerasan. Namun bukan itulah yang menjadi penyebab utama ia enggan kembali. Saat ini ia sedang menikmati bagaimana menimba ilmu dan pengalaman di negeri orang

Dari Kegagalan, Arsenal Bangkit Lagi Bagai Peluru Tak Terkendali

Arsenal merupakan salah satu klub yang sudah cukup lama berdiri dan tentu saja memiliki performa yang bagus baik dari segi permainan dan juga pemain. Namun tentu saja perjalanan klub ini tidak selalu mulus seperti apa yang fans harapkan. The Gunners juga merupakan salah satu tim atau klub yang pernah mencoba untuk bangkit dari keterpurukan karena banyak dikalahkan dalam pertandingan. Kekalahan sendiri bukanlah suatu hal yang menyakitkan jika tahu bagaimana cara merubah kekalahan menjadi sebuah motivasi untuk meningkatkan kekuatan dan juga tehnik bermain yang dimiliki. Setelah dikalahkan oleg AS Monaco beberapa waktu lalu dengan di leg pertama dengan skor agregat 3-0. Arsenal harus menelan pil pahit saat leg kedua dengan kekalahan yang di akibatkan oleh gol tandang.

Setelah dikalahkan oleh AS Monaco beberapa waktu lalu The Gunners saat ini bak peluru yang melesat tak terkendali dan tentu saja ini dalam artian yang baik. Setelah Kekalahan pahit yang dialami oleh Arsenal tersebut, tehnik bahkan permainan yang dimiliki oleh The Gunners meningkat cukup baik bahkan dapat dibilang sangat baik. Ini membuktikan bahwa kegagalan bukanlah suatu alasan untuk menyerah.
Pada tanggal 30 mei mendatang tim asuhan Arsene Wenger ini akan bertanding dengan lawan yang cukup kuat juga di partai puncak yang tentu saja akan membuat Arsenal tidak akan melewati musim ini dengan mudah. Maka dari itu partai puncak pada tanggal 30 Mei mendatang merupakan salah satu pertandingan yang paling di nanti oleh fans terutama fans The Gunners yang ingin melihat Arsenal bangkit dari keterpurukan.

Si Penembak ini memang bukan sebuah klub baru yang memiliki sedikit pengalaman. Arsenal merupakan satu dari tim-tim besar yang tentu saja sudah banyak makan asam dan garam dari dunia persepakbolaan dunia. Setelah kekalahan menyakitkan saat melawan AS Monaco beberapa waktu lalu kini Arsenal sudah siap melibas semua lawannya yang bertemu pada pertandingan musim ini. Ini terbukti dari meningkatnya performa dan juga kinerja The Gunners sebagai tim yang tidak dapat dianggap remeh. Setelah kekalahan yang memilukan tersebut pada tanggal 30 Mei mendatang Arsenal akan bertanding di partai puncak melawan tim yang tidak kalah mengerikannya dengan Arsenal yaitu Aston Villa. Yang pastinya akan berlangsung sangat menegangkan.

Musim ini merupakan sebuah musim yang akan menjadi kebangkitan dari Arsenal yang sempat terpuruk akibat kekalahan yang di dapat ketika bertanding melawan AS Monaco beberapa waktu yang lalu. Tentu saja pertandingan The Gunners melawan Aston Villa merupakan sebuah pertandingan yang sangat dinanti oleh para penggemar dua klub tersebut. Pertandingan sendiri akan berlangsung pada partai puncak musim ini pada tanggal 30 Mei mendatang yang tentu saja menjadi salah satu pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak orang, terutama fans kedua klub tersebut.

Michael Owen Angkat Bicara Soal Baloteli di Liverpool

Liverpool Harus Lebih Bersabar Dengan Polesan Taktik Rodgers

Musim ini mungkin bukan musim yang baik untuk Liverpool. Ini terbukti dari kekalahan yang terus ditanggung oleh The Reds yang terjadi berulang kali terjadi pada musim ini. Hal tersebut mulai menuai spekulasi bahwa kegagalan tim berasal dari Brendan Rodgers. Hal ini akhirnya membuat Michael Owen mantan pemain Si Merah tersebut angkat bicara soal kesalahan Liverpool yang lebih memilih Baloteli dan lebih memilih untuk menjual Luis Suarez yang dipercaya merupakan sebuah kesalahan.

Masih menurut pendapat Owen, Rodgers seperti melakukan perjudian dan dia bertaruh pada Baloteli. Menurut Owen Baloteli belum bisa memberikan kinerja seperti Luis Suarez yang memiliki kapasitas jauh di atas Baloteli. Manajer The Reds tersebut sendiri mengetahui hal tersebut. Bahwa memilih Baloteli untuk Anfield merupakan sebuah pertaruhan. Namun, banyak opini publik membuktikan bahwa Liverpool mengalami kemunduran bukan hanya dari segi pemainnya saja. Michael Owen sendiri berpendapat bahwa Baloteli belum dapat untuk memberikan kinerja yang baik untuk Liverpool sehingga menurut Owen, memilih Baloteli merupakan langkah yang salah yang dilakukan oleh Liverpool. Sehingga Owen berkata bahwa membeli Baloteli merupakan sebuah pemborosan.

Membeli Mario Baloteli pada musim panas lalu untuk menggantikan Luis Suarez yang merupakan andalan The Reds di lini depan terbukti tidak menguntungkan bagi Liverpool. Ini dibuktikan dari jumlah kekalahan yang di dera oleh tim yang biasa di juluki The Reds atau Si Merah ini. Selain melakukan pemborosan dengan membeli Mario Baloteli dengan harga yang cukup tinggi yaitu sebesar 16 juta poundsterling. Michael Owen yang merupakan mantan pemain dari Liverpool akhirnya angkat bicara mengenai hal itu. Menurutnya Rodgers tahu benar akan resiko ketika dia (Rodgers) memutuskan untuk membeli Mario Baloteli untuk menggantikan Luis Suarez pada lini depan The Reds.

Namun ternyata setelah membeli Mario Baloteli, The Reds baru bisa memainkannya pada akhir musim ini. Dan tentu saja banyak yang ingin melihat bahwa apa yang di sampaikan oleh beberapa orang termasuk Michael Owen merupakan opini yang salah. Mario Baloteli sendiri menjadi sorotan ketika dirinya berhasil mengantarkan Manchester City menjadi juara beberapa tahun lalu. Setelah menunjukan kinerja dan permainan yang apik pada laga tersebut banyak klub-klub besar yang akhirnya mengantri untuk mendapatkan pemain dengan kulit hitam dan juga potongan rambut yang unik ini.

Salah satu tim yang akan segera mencicipi performa dari Mario Baloteli sebentar lagi adalah tim asuhan Rodgers ini. Tim besutan Brendan Rodgers ini memang sedang berada dalam keterpurukan, karena mengalami banyak kekalahan. Brendan Rodgers dikatakan sebagai salah satu faktor bagi The Reds yang terus mengalami kemunduran dalam beberapa musim terakhir ini. Hal ini juga memicu beberapa mantan pemain Liverpool angkat bicara dan salah satunya adalah Michael Owen. Owen sendiri menkritisi Si Merah karena lebih memilih Mario Baloteli ketimbang Luis Suarez yang menurutnya memiliki performa yang jauh lebih baik dari Mario Baloteli.

Liverpool Harus Lebih Bersabar Dengan Polesan Taktik Rodgers

Liverpool Harus Lebih Bersabar Dengan Polesan Taktik Rodgers

Stan Collymore mantan pemain The Reds yang kini beralih profesi sebagai seorang analis sepakbola setelah memutuskan gantung sepatu mulai berbicara mengenai salah satu pemain handal dari Liverpool Brendan Rodgers. Mantan pemain The Reds itu mulai menyampaikan pendapatnya mengenai Rodgers. Menurut Stan, Rodgers merupakan salah satu pemain yang telah sangat cocok untuk bermain di Liverpool. Dan menurut Stan, Rodgers adalah sosok yang sangat tepat untuk Liverpool.

Namun setelah tersingkir dan terkalahkan pada semifinal piala FA beberapa waktu yang lalu, kini masa depan Rodgers di Anfield kini menjadi sebuah spekulasi yang cukup dipertanyakan, karena kekalahan The Reds di piala FA ini merupakan kali kedua setelah tim ini dikalahkan di pertandingan empat besar pada musim ini yang telah membuat mereka gagal mengantongi gelar juara Liga Inggris musim ini. Dan tentu saja hal itu menjadi sebuah pukulan yang sangat keras bagi tim yang dikenal dengan julukan ‘si merah’ ini. Sebelum hal itu terjadi tim ini juga mendapatkan kegagalan pada Liga Champion dan masih harus merasakan pahitnya kekalahan pada liga Eropa yang menyebabkan mereka harus angkat koper.
Tentu saja kekalahan yang bertubi-tubi merupakan sebuah beban bagi Brendan Rodgers yang cukup untuk membuat dirinya merasa terpojok dan juga tertekan, karena tim nya kini masih berada pada zona luar dari Liga Champion. Pada kancah Premier League sendiri nama Brendan Rodgers merupakan salah satu nama besar yang sudah turut andil dalam memperbesar The Reds atau dikenal dengan julukan ‘si merah’ ini. Ketika orang-orang mulai meragukan kredibiltas Rodgers, Stan Collymore datang dengan sebuah penyemangat khususnya bagi pemain Liverpool dan seluruh bagian dari tim terutama untuk Brendan Rodgers itu sendiri.

Sebagai seorang pengamat dan analis sepakbola yang juga merupakan mantan pemain dari tim yang dijuluki ‘Si Merah’ ini, Stan masih menaruh sebuah harapan besar pada Rodgers. Bahkan Stan pun berkata bahwa Brendan Rodgers merupakan sosok yang sudah sangat ideal bagi Liverpool dan yang mereka butuhkan hanyalah bersabar karena menurut Stan, Rodgers merupakan sosok yang ahli dalam masalah taktik. Sehingga tentu saja Liverpool membutuhkan sedikit lagi kesabaran untuk dapat menggapai puncak kejayaan Liverpool di Liga Champions.

Musim ini adalah merupakan musim ketiga Rodgers berada di Liverpool, kini pun mulai merasa gerah karena belum ada juga trofi yang mampir ke Anfield, Liverpool. Tentu saja hal tersebut juga merupakan sebuah hal yang sangat memilukan bagi para suporter dan juga fans The Reds. Akan tetapi tidak dengan Stan Collymore. Pemain Liverpool yang saat ini menjadi analis ini beranggapan, bahwa sosok Rodgers merupakan sebuah role model dan juga tokoh yang sangat tepat dan pas untuk Liverpool dan yang dibutuhkan untuk mencapai hasil terbaik adalah bersabar.

Dokter Timnas Kroasia Salahkan Madrid atas Cedera Modric

Dokter Timnas Kroasia Salahkan Madrid atas Cedera Modric

Dokter Medis Timnas Rusia, Boris Menec berpandangan bahwa pelatih Real madrid, Carlo Ancelotti terlalu memaksakan Modric untuk tampil saat belum sepenuhnya pulih.

Luka Modric, Gelandang andalan Real madrid ini terpaksa harus kembali berkutat dengan cedera, padahal mantan penggawa Tottenham Hotspur tersebut baru saja pulih dari cedera yang membekapnya selama empat bulan pada maret lalu. Sayangnya, dalam laga versus Malaga akhir pekan kemarin, Modric tak bisa bermain secara penuh karena cedera hamstring yang kembali membekapnya. Menurut perkiraan tim medis Kroasia, sang Gelandang baru bisa pulih enam pekan ke depan.

Nah, terkait cedera sang pemain, Dokter Timnas Kroasia, Boris Nemec memiliki pandangan bahwa Real Madrid, terutama pelatih Carlo Ancelotti adalah penyebab dari cedera berkelanjutan yang dialami Modric.

“Carlo Ancelotti tidak memberikan Modri waktu istirahat yang cukup banyak setelah baru saja kembali dari cedera panjang. Dia bermain selama 90 menit dalam setiap pertandingan. Carlo Ancelotti memberikannya banyak tekanan, ketimbang memberikan kesempatan bagi sang pemain untuk pulih sepenuhnya, sedikit demi sedikit”

“Menurut saya, Modric tidak mengalami cedera karena berbenturan dengan pemain lain, tapi karena dia memang belum fit 100 persen” Ujar Boris Nemec kepada Nova TV.

Akibat cedera ini, Modric dipastikan mengakhiri perjalanannya di ajang La Liga Spanyol lebih awal. Selain itu dia juga tidak bisa tampil dalam laga leg kedua babak perempat final Liga champions Eropa melawan Atletico Madrid di Estadio Vicente Calderon.

Chelsea Siapkan Felipe Luis Plus Uang untuk Tebus Koke

Chelsea Siapkan Felipe Luis Plus Uang untuk Tebus Koke

Chelsea dipercaya siap melepaskan defender anyar mereka, Felipe Luis menuju Vicente Calderon demi wujudkan transfer gelandang andalan Atletico Madrid, Koke.

Performa impessif koke bersama Atletico Madrid dalam beberapa musim terakhir memang telah berhasil menarik minat sejumlah klub papan atas Eropa. Mulai dari Barcelona, Paris Saint-Germain dan Chelsea. Namun, diantara sejumlah peminat, Chelsea diyakini yang paling ‘ngebet’ datangkan gelandang berusia 23 tahun tersebut, dan menurut informasi yang kami dapatkan, Koke memiliki klausul Buy Out senilai 44 Juta Poundsterling dalam kontraknya di Atletico Madrid.

AS Melansir, pihak Atletico Madrid hanya bersedia menerima tawaran tunggal jika memang ada peminat dari klub lain terhadap Koke. Dengan artian lain, Los Rojiblancos hanya akan menerima tawaran berupa uang tunai senilai klausul penjualan Koke. Namun, pihak Chelsea snediri menginginkan adanya opsi penukaran pemain plus sejumlah dana untuk menebus gelandang 23 tahun tersebut.

Seperti yang kami katakan di awal, Chelsea dipercaya berniat untuk memasukkan nama Felipe Luis dalam penebusan Koke pada kesempatan transfer mendatang. Dan andai memang benar demikian, maka dalam waktu dekat Chelsea akan segera melayangkan proposal penawaran tersebut.

Namun, sepertinya kesulitan yang akan ditemui sang pemuncak klasemen sementara Liga Primer itu adalah niat sang pemain yang beberapa waktu lalu mengaku betah di Estadio Vicente Calderon. Bahkan Koke sebelumnya mengaku sempat menolak tawaran dari Barcelona.

Yaya Toure Tak Tutup Peluang Tinggalkan Manchester City

Yaya Toure Tak Tutup Peluang Tinggalkan Manchester City

Gelandang Internasional Pantai Gading, Yaya Toure mengaku sama sekali tak menutup kemungkinan untuk pergi dari Etihad Stadium pada bursa transfer musim panas mendatang.

Sejak pertama kali didatangkan dari Barcelona pada tahun 2010 lalu, Yaya Toure berhasil langsung menjadi salah satu penggawa penting dari Manchester City, bahkan pada musim pertamanya dia sudah berhasil mempersembahkan trofi Liga Primer Inggris kepada raksasa Manchester tersebut. Kehebatan Yaya di atas lapangan diakui banyak pihak, bahkan beberapa meyakini bahwa Yaya adalah poros permainan dari Manchester City.

Namun, belakangan sang pemain mengalami situasi sulit di Manchester City, diapun diprediksi bakal tinggalkan Etihad Stadium musim depan.

“Tidak ada nominal gaji yang bisa membuat saya bertahan di klub andai saya sudah merasa cukup, dan tidak ada lagi tantangan baru bagi saya. Itu tidak akan menjadi adil bagi saya. Akan ada momen di mana angka tidaklah berperan dalam bagian saya ataupun membuat langkah saya terhenti”

“Itu akan melampaui catatan yang ada, tentang masa depan, saya sendiri belum tahu, karena saya hanya akan pergi jika ada tantangan baru, itulah sifat saya, ketika ada yang tidak dengan klub, maka pemain pentinglah yang akan menerima kritikan” Ujar Gelandang 31 tahun tersebut kepada Daily Stars.

Inter Milan disebut-sebut sebagai peminat berat Yaya Toure, kehadiran Roberto Mancini di kursi pelatih Nerazzuri juga diyakini akan menarik perhatian sang pemain.